Kegagalan adalah salah satu proses yang harus Anda lalui untuk menuju kesuksesan hidup

Kamis, 16 Februari 2012


Mengelola Keuangan
by aditya firdaus (@adityafirdaus1)
Mengelola keuangan bukan hanya tentang berapa tabungan Anda. Bukan juga tentang apakah tabungan Anda cukup untuk bertahan hidup 10 tahun bila Anda tak bekerja. Mengelola keuangan itu, menurut saya, berkaitan dengan pandangan hidup seseorang.
Bagi seorang yang beriman, mengelola keuangan itu berkaitan dengan keselamatan kehidupan di dunia dan juga kehidupan di akhirat.  Uang menjadi hamba sahayanya, bukan sebaliknya ia menjadi hamba uang.
Dari para profesional dan pebisnis sukses beriman saya banyak belajar tentang bagaimana mengelola keuangan.  Mereka mengalokasikan uangnya untuk tiga keperluan: Akhirat, Masa Depan dan Masa Kini. Urutan itu menunjukkan prioritas, jangan dibalik mengelola keuangan untuk kepentingan Masa Kini, Masa Depan dan Akhirat. Ketahuilah kehidupan akhirat jauh lebih penting dari kehidupan dunia.
Setiap penghasilan yang kita peroleh gunakan untuk keperluan akhirat; keluarkanlah untuk zakat dan infak sedekah. Sahabat saya, melakukannya dengan cara memberi makan setiap hari kepada orang-orang miskin yang tinggal di sekitar rumahnya. Rata-rata ia memberi makan kepada 40 keluarga miskin setiap harinya. Ajaibnya, setelah ia rutin melakukan kebiasaan memberi makan, rezekinya semakin berlimpah dan order mengalir tiada henti.
Mungkin otak rasional Anda akan bertanya, “Bagaimana mungkin saya keluarkan uang untuk sedekah lha wong kehidupan saya saja pas-pasan.” Ini memang masalah keimanan yang tidak semuanya bisa dijelaskan dengan akal manusia. Sama halnya kita tidak bisa menjelasan mengapa sholat di Masjidil Haram pahalanya 100 ribu kali lipat, sholat di Masjid Nabawi Madinah 1.000 kali lipat dibandingkan dengan sholat di masjid termegah sekalipun di belahan dunia lain.
Kedua, alokasikan penghasilan untuk masa depan kita. Bila sudah terkumpul dengan jumlah memadai gunakan untuk modal usaha. Karena kehidupan yang paling nyaman dalam urusan finansial adalah ketika passive income kita lebih besar dari kebutuhan atau setidaknya mampu memenuhi semua kebutuhan kita. Dana untuk masa depan kita itu diinvestasikan bukan ditabung.
Ketiga, alokasikan penghasilan yang kita peroleh untuk keperluan hari ini. Hiduplah sederhana dan jangan kedepankan gengsi. Percuma kehidupan kita saat ini terlihat “wah” tetapi sebenanya rapuh secara finansial karena tak ada dana yang diinvestasikan untuk masa depan. Amatlah sia-sia bila kehidupan saat ini kita terlihat sukses tapi di akhirat tidak bisa tinggal di tempat yang terhormat.
Targetkan bahwa dalam jangka waktu tertentu keperluan sehari-hari kita akan dipenuhi dari passive income. Dan itu bisa terjadi bila kita mengelola uangnya dengan urutan untuk keperluan akhirat, masa depan dan masa kini. Tidak percaya? Coba dulu dong…
Sumber : guru saya (@jamilazzaini)
follow guru saya ya :)

Rabu, 15 Februari 2012

Kekayaan Sejati 1


Kekayaan Sejati

Anda ingin kaya raya? Pasti sebagian besar atau bahkan semua orang menginginkannya. Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini, coba pejamkan mata Anda dan bayangkan Anda menjadi seorang yang kaya raya. Pakaian seperti apa yang Anda kenakan? Mobil apa yang Anda kendarai? Bagaimana Anda membelanjakan uang yang Anda miliki? Ayo, pejamkan mata dan bayangkan seandainya Anda seorang yang kaya raya.
Sudah Anda bayangkan? Gambaran seperti apa yang Anda peroleh?
Sebagian besar dari Anda boleh jadi akan membayangkan mengenakan pakaian bermerek dan mahal. Mobil yang dikendarai adalah mobil mewah keluaran terbaru. Anda pun bebas berpesta pora kapan saja dan di mana saja. Mungkin ada pula yang membayangkan duduk santai di rumah yang besar. Atau, traveling keliling dunia dengan kapal pesiar termegah atau pesawat pribadi tercanggih.
Apabila Anda termasuk seperti yang tersebut di atas, itu berarti pikiran Anda sudah teracuni sinetron. Cara seperti itu akan menjauhkan hidup Anda dari kekayaan sejati dan kesejahteraan. Cara hidup seperti itu bukan cara hidup orang kaya sejati.
Percayalah, apabila ada yang menjalani hidup seperti itu pasti kekayaannya akan cepat sirna. Banyak selebritis yang hidupnya terlihat super wah saat namanya menanjak tetapi di masa tuanya ia terlilit hutang yang mencekik. Kekayaan dan populitasnya hanya semu belaka. Itu bukan cara hidup orang yang bermental kaya.
Kekayaan sejati bukan diukur dari baju yang dikenakan, asesoris bermerek yang selalu melekat pada dirinya, mobil mewah keluaran terbaru yang ia punya dan ukuran-ukuran material lainnya. Kekayaan sejati diukur dari seberapa lama Anda bisa menjalankan hidup yang sama apabila Anda berhenti bekerja. Semakin lama Anda bisa menjalani hidup yang sama tanpa harus bekerja, semakin membuktikan bahwa Anda adalah kaya.
Bagaimana agar hal itu kelak terwujud? Rumusnya sederhana, tingkatkan belanja Anda untuk hal-hal yang sifatnya produktif dan menghasilkan. Cara ini akan meningkatkan passive income Anda di masa yang akan datang. Anda tidak bekerja tetapi uang tetap mengalir ke rekening Anda.
Turunkan nafsu belanja Anda untuk membeli sesuatu yang tidak perlu, hanya karena gengsi atau karena sedang ngetren. Hindari membelanjakan sesuatu untuk bermaksiat kepada Allah walau hanya satu rupiah sekalipun. Anda harus sangat pelit untuk belanja sesuatu yang tidak berguna apalagi mendatangkan dosa.
Kekayaan sejati itu terjadi apabila passive income Anda lebih besar dari pengeluaran dan belanja Anda. Kapan itu akan terjadi dalam hidup Anda? Apakah itu mungkin terjadi dalam hidup Anda? Saya berharap, Anda memiliki mental untuk menjadi orang yang memiliki kekayaan sejati. Selamat berlatih menjadi orang kaya sejati…
Salam SuksesMulia!
Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter : @AdityaFirdaus1
Atau bisa juga di : @jamilazzani
Kunjungi website saya : www.jamilazzaini.com

Wajib Gagal


Wajib Gagal

By Abang Adit "Motivator"
Ada yang konsultasi kepada saya, “Pak, saya ingin menjadi entrepreneur tetapi saya tidak siap menghadapi kegagalan. Bagaimana pak?” Rupanya, banyak orang mengira kegagalan itu sebuah aib sehingga harus dihindari, padahal kegagalan adalah bagian dari proses menuju keberhasilan. Siapapun yang ingin sukses harus pernah gagal.
Merujuk pada hasil riset Lisa Amos, profesor bidang bisnis dari Tulane University, rata-rata entrepreneur membuat 3.8 kegagalan sebelum akhirnya berhasil dalam usahanya. Mereka tidak menganggap itu adalah kegagalan dan kemunduran. Mereka menyadari bahwa tiga langkah maju dan dua langkah mundur itu menghasilkan satu langkah maju.
Saatnya orang-orang yang takut dengan kegagalan mengubah persepsinya terhadap kegagalan. Ketahuilah bahwa kegagalan itu manusiawi dan tidak dapat dihindarkan. Jika Anda manusia, Anda pasti akan membuat kekeliruan-kekeliruan yang identik dengan kegagalan.
Persepsi bahwa kegagalan adalah musuh harus dibuang jauh-jauh dari pikiran dan hati Anda. Sesungguhnya dibutuhkan kegagalan untuk menciptakan kesuksesan. Bahkan para ahli menyakini bahwa, “Orang yang tidak pernah membuat kekeliruan akan dikendalikan atau diperintah oleh orang yang pernah membuat kekeliruan.” Amatilah orang-orang yang sukses tidak melihat kekeliruan dan kegagalan sebagai musuh.
Persepsi bahwa kegagalan itu memalukan juga harus Anda buang. Kegagalan bukanlah sesuatu yang permanen. Ia adalah salah satu proses atau langkah yang harus Anda lalui untuk menuju kesuksesan hidup.
Saya tidak pernah malu walaupun orang-orang tahu saya dulu pernah bangkrut dalam bisnis. Saya juga pernah tidak naik kelas saat SD. Saya juga pernah ditolak tiga kali saat “melamar” wanita untuk menjadi pendamping hidup saya. Indek Prestasi Kumulatif (IPK) saya waktu lulus S-1 dari IPB juga tidak terlalu membanggakan, pas-pasan alias dua koma alhamdulillah.
Karena kegagalan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan, maka bila Anda ingin sukses Anda wajib gagal. Mengapa? Karena jika kegagalan tidak pernah Anda alami maka Anda tidak akan pernah merasakan kesuksesan. Tugas kita melakukan yang terbaik, bila ternyata gagal atau berhasil nikmati saja. Kegagalan sama baiknya dengan kesuksesan dalam proses kehidupan yang kita jalani.
Salam SuksesMulia!
Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di Twitter : @AdityaFirdaus1
Atau di : @jamilazzaini

Selasa, 07 Februari 2012

Uang Itu Ibarat Pisau

Persepsi yang salah tentang uang bisa menyesatkan. Sesat karena itu bisa menjadikan seseorang miskin, sesat karena itu bisa juga menjadikan seseorang diperbudak oleh uang. Karenanya, kita harus memiliki persepsi yang tepat tentang uang agar tidak sesat seperti itu.
Keyakinan atau persepsi yang kita miliki tentang uang akan sangat menentukan arah dan kualitas hidup kita. Orang yang menganggap uang itu sebagai sumber kejahatan maka dia tidak akan pernah kaya. Sama halnya dengan orang yang punya keyakinan bahwa uang tidak akan mampu membeli kebahagiaan maka hidupnya justru tidak akan bahagia.
Ada beberapa keyakinan dan persepsi yang keliru tentang uang. Pertama, keyakinan bahwa uang adalah akar dari segala kejahatan. Padahal, kekurangan uanglah yang bisa menjadi akar dari segala kejahatan. Penyebab nomor satu kejahatan baik itu pembunuhan, penipuan dan pencurian adalah karena kekurangan uang.
Cobalah lihat dan belajar dari orang-orang kaya yang sholeh. Mereka bisa melakukan banyak hal karena memiliki banyak uang. Mereka bisa memberangkatkan orang-orang ke Tanah Suci karena memiliki banyak uang. Sahabat saya setiap hari bisa memberi makan kepada 400 orang karena memiliki banyak uang. Ubahlah keyakinan dari uang adalah akar dari segala kejahatan menjadi uang adalah akar dari segala kebaikan.
Kedua, keyakinan negatif bahwa orang kaya itu diperbudak oleh uang. Menurut saya adalah sebaliknya, orang-orang yang kekurangan hartalah yang diperbudak oleh uang. Buktinya? Banyak diantara mereka melakukan pekerjaan yang mereka tidak sukai setiap hari hanya demi uang. Sungguh tragis, setiap hari mereka pergi bekerja untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya mereka benci!
Orang-orang kaya jarang sekali bekerja demi uang. Mereka bekerja karena gairah, semangat dan pribadinya yang visioner. Bahkan ada yang semangat bekerja karena ingin Indonesia setara dengan negara lain.
Dari segelintir orang kaya di Indonesia, ada yang bekerja dengan Visi Indonesia 2030. Setiap hari ia mengerahkan segala daya upayanya agar pada tahun 2030 perusahaan-perusahaan di Indonesia menjadi perusahaan terbaik kelas dunia.
Diantara mereka ada yang bekerja karena semangatnya bela beli produk-produk Indonesia. Ia ingin Indonesia mandiri dan memenuhi kebutuhannya dengan produk-produk dalam negeri.
Dengan seperti itu, yang terjadi kemudian adalah uanglah yang mengejar mereka. Uanglah yang bekerja untuk mereka. Uanglah yang mereka perbudak dan dijadikan alat untuk mewujudkan impiannya.
Ketiga, keyakinan negatif bahwa uang itu bisa menjauhkan dari agama. Padahal faktanya, orang-orang yang dijamin masuk surga tanpa hisab sebagian besar adalah orang kaya raya. Dengan uang Anda bisa pergi haji atau menghajikan banyak orang. Anda bisa zakat dan sedekah dalam jumlah yang berlimpah. Anda bisa melakukan banyak amal sholeh dengan uang yang Anda miliki.
Bagi saya uang tidaklah jahat. Uang itu netral. Ibarat pisau, uang itu bisa Anda gunakan untuk memotong sayuran atau bisa digunakan untuk membunuh orang. Jadi, milikilah uang sebanyak-banyaknya agar Anda memiliki kebebasan memberi manfaat kepada orang-orang di sekitar Anda.
sumber : www.jamilazzaini.com